Jumat, 02 November 2007

"SAVE PAPER - THINK BEFORE YOU PRINT! "

Mari kita lebih peduli pada nasib Bumi
kita !
Save the Nature, Save the Earth !!!

Harta Karun untuk Semua
oleh Dewi Lestari

Hari ini kiriman buku yang saya pesan
dari Amazon.com datang. Ada satu
buku
yang langsung saya sambar dan baca
seketika. Judulnya: "Stuff - The
Secret Lives of Everyday Things". Buku
itu tipis, hanya 86 halaman,
tapi
informasi di dalamnya bercerita
tentang perjalanan ribuan mil dari mana
barang-baran g kita berasal dan ke mana
barang-baran g kita berakhir.

Dim ulai sejak SD, saat saya pertama
kali tahu bahwa plastik memakan
waktu
ratusan tahun untuk musnah, saya
sering merenung: orang gila mana yang
mencipta sesuatu yang tak musnah
ratusan tahun tapi masa penggunaannya
han ya dalam skala jam-bahkan detik?
Bungkus permen yang hanya bertahan
sepuluh detik di tangan, lalu masuk
tong sampah, ditimbun di tanah dan
baru

h ancur setelah si pemakan permen
menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa j adi nya hidup
ini tanpa plastik, tanpa cat,
tanpa
det erjen, tanpa karet, tanpa mesin,
tanpa bensin, tanpa fashion. Dan
sebagai konsumen dalam sistem
perdaganga n modern, sejak kita lahir
rantai
p engetahuan tentang awal dan akhir
dari segala sesuatu yang kita
konsumsi
telah diputus. Kita tidak tahu dan
tidak dilatih untuk mau tahu ke mana
kemasan styrofoam yang membungkus nasi
rames kita pergi, berapa banyak
pohon yang ditebang untuk koran yang
kita baca setengah jam saja, beban
polutan yang diemban baju-baju semusim
yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita
lewatkan tanpa berpikir, yang terasa
wajar-waja r saja, pernahkah kita
berhitung bahwa untuk hidup 24 jam
kita
bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini
berkali-kali lipat berat tubuh
kita
sen diri?

Untuk menyiram 200 cc air kencing,
kita memakai 3 liter air. Untuk
mencuci
secangkir kopi, kita butuh air
sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis
daging burger yang mengenyangkan perut
setengah hari dibutuhkan sekitar
2,400 liter air. Produksi satu set PC
seberat 24 kg yang parkir di atas
meja kerja kita menghasilkan 62 kg
limbah, memakai 27,594 liter air,
dan
mengo nsumsi listrik 2,300 kwh.
Bagaimana dengan chip kecil yang
bekerja
d i
dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk
memproduksi nya 4,500 kali lipat
lebih berat daripada berat chip itu
sendiri.
< BR>Mengetahui mata rantai tersembunyi ini
bisa menimbulkan berbagai
reaksi.< BR>Kita bisa frustrasi karena terjepit
dalam ketergantungan gaya hidup
yang
tak bisa dikompromi, kita bisa juga
semakin apatis karena tidak mau
pusing.
Yang jelas, sesungguhnya ini adalah
pengetahua n yang sudah saatnya
dibuka.Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar
penampang daun dan membedah jantung
katak, dapat dibuat lebih empiris
dengan mempelajari hulu dan hilir
dari
ben da-benda yang kita konsumsi,
sehingg a tanggung jawab akan alam ini
telah
diso sialisasikan sejak kecil.

Pernah kah kita merenung, saat kita
memasuki gedung FO empat lantai,
Pasar
Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu
pada hari Minggu di mana ada lautan
PKL: tidakkah semua baju dan barang-
barang itu mampu memenuhi kecukupan
pendudu k satu kota ? Tapi kenapa
barang-bar ang ini tidak ada habisnya
diproduk si? Setiap hari selalu ada
jubelan pakaian baru yang
menggelontor i
pasar. Pernahkah kita merenung, saat
kita memasuki hypermarket dan
melihat
ra tusan macam biskuit, ratusan varian
mie instan, dan ratusan merk
sabun:
ha ruskah kita memiliki pilihan
sebanyak itu?

Pernahka h kita merenung, apa yang kita
inginkan sesungguhnya jauh
melebihi
apa yang kita butuhkan?

Ata s nama kecukupan, satu manusia bisa
hidup dengan lima pasang baju
dalam
set ahun, bahkan lebih. Atas nama
fashion, jumlah itu menj adi tidak
berbatas. Atas nama kebutuhan, satu
manusia bisa hidup dengan beberapa
pilihan panganan dalam sehari. Atas
nama selera dan nafsu, seisi Bumi
tidak
aka n sanggup memenuhi keinginan satu
manusia.

Permasalahan ini memang bisa dilihat
dari berbagai kaca mata. Seorang
ekonom mungkin akan menyalahkan sistem
kapitalism e dan globalisasi.
Seor ang

sosialis akan mengatakan ini masalah
distribus i dan pemerataan. Tapi
jika
kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi
adalah kumpulan negara, negara
adalah kumpulan kelompok, dan kelompok
adalah kumpulan individu,
permasa lahan ini akan kembali ke
pangkuan kita. Dan kesadaran serta
kemauan kitalah yang pada akhirnya
akan memungkinkan sebuah perubahan
sejati.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan
keput usan harian kita menj adi
sangat menentukan. Tidak perlu
menunggu Amerika menyepakati protocol
Kyoto, tidak
perlu juga menunggu penjarah hutan
tertangkap, setiap langkah
kita-memi lih
merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-
adalah pilihan politis dan ekologis
yang menentukan masa depan seisi Bumi.

Saya belum bisa mengorbankan komputer
karena itulah instrumen saya
bekerja,
tapi saya bisa lebih awas dengan jam
penggunaan dan mematikannya jika
tidak
per lu. Saya belum bisa mengorbankan
kebu tuhan akan informasi, tapi saya
bisa memilih membaca berita lewat
internet atau membaca koran di tempat
publik ketimbang berlangganan
lang sung. Bagaimana dengan fashion?
Di dunia citra ini, dengan profesi
yang mengharuskan banyak tampil di
muka
publik , saya pun belum bisa
mengorbankan keperluan fashion (baca:
membeli
busana lebih sering dari yang
dibutuhkan), tapi saya bisa membuat
komitmen< BR>dengan lemari pakaian, yakni baju yang
saya miliki tidak boleh melebihi
kapasita s lemari saya. Jika lebih,
maka harus ada yang keluar. Dan
setiap
beb erapa bulan saya dihadapkan pada
kenyataan bahwa ada baju yang tidak
saya pakai setahun lebih atau baju
yang cuma sekali dipakai dan tak
pernah
lag i. Bukan cuma baju, ada juga buku,
pernik rumah, alat dapur, bahkan
sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.

Alh asil, dalam rumah saya ada semacam
peti-peti 'harta karun', yang
berisikan barang-barang yang harus
keluar dari peredaran, karena jika
dipertahanka n hanya menj adi kelebihan
tanpa lagi unsur manfaat. Harta
karun ini lantas harus dic arik an
lagi outlet untuk penyaluran.

P ada waktu perayaan 17 Agustus, di
kompleks saya diselenggarakan
b azaar.
Para warga menyewa stand untuk
berjualan. Saya ikut berpartisipasi,
d an
sayalah satu-satunya penjual barang
bekas di antara penjual barang-baru
baru. Karena bukan demi cari untung,
barang-ba rang itu saya lepas
dengan
h arga sangat murah. Yang membeli bukan
cuma warga kompleks, tapi juga
dari
kamp ung sekitar. Hari pertama, saya
sudah kehabisan dagangan. Terpaksa
saya
mengontak saudara-saudara saya yang
barangkali juga punya barang bekas
untuk disalurkan. Sama dengan saya,
mereka pun punya timbunan harta
karun
ya ng entah harus diapakan. Stand saya
menj adi salah satu stand paling
laris selama bazaar berlangsung. Dan
kakak saya terkaget-kaget dengan
penghasila n
yang ia dapat dari tumpukan barang
yang sudah dianggap sampah.

Berju alan di bazaar tentu bukan satu-
satunya jalan, ada aneka cara
kreatif
l ain untuk memanfaatkan harta karun
kita, termasuk juga disumbangkan ..
Namun yang lebih sukar adalah memulai
membuat komitmen-komitmen
pembatasan
diri. Berkomitmen dengan rak buku,
dengan lemari pakaian, dengan rak
kamar
mand i, dengan laci dapur, dan pada
intinya... dengan diri sendiri.
Siapkah< BR>kita menentukan batasan dan berjalan
dalam koridor itu?

Dan, yang lebih susah lagi, adalah
pengenda lia n diri dari awal bersua
aneka pilihan yang membombardir kita
setiap hari, lalu sadar dan mawas
akan
ran tai sebab-akibat yang menyertai
pilihan kita. Membuka diri untuk
info
dan pengetahuan ekologi adalah salah
satu cara pembekalan yang baik.
Walaupun sekilas tampak merepotkan dan
bikin frustrasi, tapi kantong
kresek
yang kita buang t adi pagi tidak akan
hilang oleh sihir, dan hamburger
yang
kita makan tidak dipetik dari pohon.
Rantai yang menyertai
barang- barang
itu tidak akan hilang hanya karena
kita menolak tahu.

Banyak orang yang berkomentar pada
saya, " Aduh , Wi . Kamu bikin hidup
tambah susah saja." Dan mereka benar.
Hidup ini tak mudah. Untuk itu
kita justru
harus belajar menghargai setiap
jengkalnya . Memilih hidup yang lebih
sederhana, hidup dengan tempo yang
lebih pelan, hidup dengan pengasahan
kesada ran, tak hanya membantu kita
lebih eling dan terkendali, tapi
juga
memb antu Bumi ini dan jutaan manusia
yang dij adi kan alas kaki oleh
industri demi pemenuhan nafsu konsumsi
kita sendiri.

Ling karan setan? Ya. Tapi tidak
berarti kita tak sanggup berubah.

Sela ma ini kita adalah pembeli yang
berlari. Dalam kecepatan tinggi
kita
be rtransaksi, sabet sana sabet sini,
tanpa tahu lagi apa yang
sesungguhny kita cari.
berhentilah sejenak. marilah kita
berjalan

Tidak ada komentar: