Kamis, 22 November 2007

CARA PANDANG TERHADAP BEBAN HIDUP

Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul
beban tersebut.
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey
mengangkat segelas
air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira
segelas air ini?"

Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr."Ini bukanlah masalah
berat absolutnya,
tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.

"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya
memegangnya selama 1
jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1
hari penuh, mungkin anda
harus memanggilkan ambulans untuk saya.Beratnya sebenarnya sama, tapi
semakin lama saya
memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."

"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan
mampu membawanya
lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey. "Apa yang
harus kita lakukan adalah
meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".
Kita harus meninggalkan
beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu
membawanya lagi.

Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban
pekerjaan. Jangan bawa
pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada
dipundak anda hari ini, coba
tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil
lagi.

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!! Hal
terindah dan terbaik
di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh
di relung hati kita.

Start the day with smile and have a good day........

taken from my friendster bulletin form yonathan:)

Jumat, 02 November 2007

BANGKITLAH KAMU AKAN KUSUNTIK MATI

Judulnya agak terlalu kejam. Mohon
maaf Bapak, Ibu, dan Saudara yang
budiman, sebab saya punya alasan.
Untuk setiap kegagalan dan
keterpurukan, memang diperlukan
perlak uan yang istimewa. Jika jatuhnya
dalam, maka perlu waktu lama untuk
sampai kembali ke bibir jurang. Jika
tenggelamnya sampai ke dasar, maka
butuh energi besar untuk kembali ke
permukaan.

Berkaitan dengan kegagalan dan
keterpurukan, kata-kata bisa menjadi
penyemang at, atau malah jadi racun
yang lebih mematikan. Ia bisa
membangkitka n, atau malah bisa fatal
karena terlanjur disuntikkan.

DARI SETBACK MENJADI COMEBACK

Tips berikut ini berasal dari materi
oleh Herbert Gordon. Isinya tentang
bagaimana sebuah kebangkitan bisa
diciptakan, setelah terlanjur jatuh
dan terpuruk. Anda mungkin pernah
mengalamin ya. Anda mungkin akan
mengalaminya . Anda mungkin sedang
mengalamin ya. Ingatlah baik-baik tips
ini, agar Anda bisa segera bangkit
kembali, tak terlalu lama setelah
terpuruk dan jatuh.

IDENTI FIKASI APA YANG BISA ANDA
KONTROL DAN YANG TIDAK

Buatlah dua buah daftar atau
inventori, yang satu berisi berbagai
hal yang bisa Anda kontrol, dan yang
satu lagi berisi hal-hal yang tidak
bisa Anda kontrol. Berbagai hal itu,
adalah segala sesuatu yang (mestinya)
bisa membantu Anda mencapai kesuksesan
atau keberhasilan.

Ingatlah bahwa sebagian besar "sebab"
pada dasarnya bisa Anda kontrol, dan
sebagian besar "akibat" memang tidak
bisa Anda kontrol.

Misa lnya, berlatih olahraga
bulutang kis sekeras mungkin, atau
melakukan prospecting penjualan
asurans i sebanyak mungkin, berada
dalam kontrol Anda.

Tapi, menjadi juara pertama dalam
olahraga bulutangkis dengan segala
kualifikas inya, atau mencapai omzet
penjualan asuransi terbesar se-
Indonesia, adalah di luar kontrol Anda.

Jika sesuatu berada di dalam kontrol
Anda, Anda boleh menyesal karena tidak
memaksimalk annya. Sebaliknya, jika
sesuatu tidak berada di dalam kontrol
Anda, maka Anda harus mau merelakannya.

Lakukanlah inventori dan identifikasi
ini dengan obyektif dan tidak terjebak
pada blame game.

DARI BITTER MENJADI BETTER

Jika Anda seperti kebanyakan orang
lain, maka ketahuilah bahwa kritikus
paling ulung bagi diri Anda, adalah
diri Anda sendiri. Kata-kata dan
pikiran Anda, sering Anda jadikan
cambuk yang terus memecut perasaan
Anda. Keduanya, berubah menjadi kata
buruk dan pikiran buruk. Lebih buruk
lagi, atas kata dan pikiran buruk itu,
Anda pecut lagi dengan kata buruk dan
pikiran buruk berikutnya. Demikian
seterusn ya. Bagaimanakah buruknya
perasaan Anda karena semua itu?

"Ah, saya gagal lagi."
"Saya memang bodoh."
"Ya gusti... mengapa saya kok bodoh
sekali."

You feel bad about feel bad.

Lupakan apa pun yang tak bisa Anda
kontrol. Dan jika Anda menemukan ada
hal yang (mestinya) bisa Anda kontrol,
segerala h meng-assess pikiran dan
perasaan Anda saat itu juga.

"Ya, Elu enak aja Pak Sopa bisa
ngomong gitu. Pan Gua nyang ngalamin!
Elu kagak!"

Ya. Anda benar. Dan satu-satunya sebab
bahwa Anda tidak bisa mengganti
ungkapa n itu dengan sesuatu yang lebih
positif, adalah karena Anda memang
tidak mencoba menggantinya. Anda,
hanya mengungkapkan apa yang Anda
rasakan. Mulai sekarang, cobalah untuk
menggantiny a dengan yang lebih
positif. Itulah yang akan membuat Anda
mampu bangkit.

Saat pikiran negatif mulai
berseliwera n di kepala Anda, segeralah
terapka n pada diri Anda sendiri sebuah
teknik yang disebut dengan "Hapus dan
Ganti". Ucapkan "Hapus dan Ganti" itu
dengan tegas kepada diri Anda sendiri.

"Say a memang bodoh."
"Hapus itu. Ganti dengan..."

La njutkan kalimat itu dengan:

"Saya telah gagal dan salah. Sekarang
saya tahu yang lebih baik, maka saya
akan melakukan yang lebih baik."

JANGAN HUKUM ORANG YANG TAK BERSALAH

Will ie Jollie pernah mengatakan "the
past is a place of reference; not a
place of residence." Kebanyakan orang
yang jatuh dan terpuruk, secara
bertubi-tu bi menghukum diri mereka
sendiri. Mereka membiarkan dirinya
bertempat tinggal di masa lalu.

Mungkin saja Anda masih menyesali dan
menangisi, apapun kesalahan yang telah
terlanjur terjadi di masa lalu.
Kesalahan kemarin, kegagalan minggu
lalu, jatuhnya bisnis setengah tahun
lewat, hancurnya hidup Anda dua tahun
belakangan, dan seterusnya. Dan Anda,
mungkin masih melanjutkan penghukuman
pada diri sendiri sampai dengan hari
ini.

Ketahuilah, Anda telah menghukum orang
yang salah.

Ketahu ilah, Anda yang kemarin dan Anda
hari ini adalah dua manusia yang
berbeda. Anda yang lalu telah gagal
dan bersalah, tapi Anda yang hari ini
telah berhasil belajar dan berubah.
Anda yang hari ini adalah korban tak
berdosa. Ia sama sekali tidak
bersalah. Dan jika Anda tetap
menghukumny a, maka Anda telah semena-
mena.

Jangan hukum orang yang tak bersalah.

Jik a Anda telah mengatakan "Sekarang
saya tahu yang lebih baik, dan saya
akan melakukan yang lebih baik", maka
berilah maaf pada diri Anda yang hari
ini. Itulah yang lebih baik, yang akan
membuat segalanya menjadi lebih baik.

Bagaima na jika Anda yang di masa lalu
masih dihukum oleh orang lain?
Ingatlah bahwa...

PEND APAT ORANG TIDAK HARUS MENJADI
REALITAS ANDA

Anda yang sekarang adalah bukan Anda
yang lalu. Anda yang sekarang adalah
Anda yang telah berhasil belajar dari
masa lalu.

Maka jika orang lain melewatkan
kesemp atan untuk memanfaatkan apa yang
Anda punya hari ini, jika mereka
melupakan kemampuan Anda sekarang,
jika mereka tak memandang keahlian dan
bakat Anda saat ini, jika mereka
meremehkan kehebatan Anda kini,
ketahuilah, bahwa merekalah yang telah
merugi, dan Anda tidak sama sekali.

Apa yang perlu Anda katakan kepada
diri Anda sendiri adalah "Beberapa
akan, beberapa tidak akan, so what,
next."
<>"Beberapa kesempatan dan peluang akan
terbuka untuk saya. Beberapa mungkin
tidak. So what. Apa berikutnya?"

Teruslah bergerak. Mengapa? Sebab...

GAGA L TIDAKLAH PERMANEN KECUALI ANDA
BERHENTI

Berita jelek: Sukses tidak permanen.
Setelah Anda mencapainya, Anda harus
terus berupaya agar tetap di sana.
Berita bagus: Gagal juga tidak
permanen, kecuali seseorang memutuskan
untuk berhenti.

Ber hentilah sebentar saja untuk
melakukan evaluasi. Gunakanlah kembali
prinsip-p rinsip dalam tips ini.
Kemudian, fokuslah pada kesempatan dan
peluang berikutnya yang sudah
mengantri di hadapan Anda.

Next please!

KESEM PATAN BARU MENYEMBUHKAN LUKA LAMA

Inilah pentingnya terus bergerak.
Sebab setiap kesempatan baru yang Anda
songsong, sangat berpeluang menjadi
obat. Coba Anda resapi puisi yang saya
buat untuk Anda hari ini.


Sese orang telah terluka

Seger a setelah ia mengalami, duduklah
ia terdiam
di pojok gelap menyendiri merasakan
perihny a

Tak lama kemudian, mulailah ia
menjilati lukanya,
berharap ia sembuh segera

Terus ia lakukan dengan penuh harap di
bawah bayang-bayang sisa kepedihannya

Setelah waktu berlalu, seseorang
kemudia n datang membuka pintu
Cahaya terang menerobos menyiram bekas
lukanya

Ia mengajak, mari keluar mari bermain
Ayo kita temui seseorang, dan kita
bersenang-se nang

Just like that
and the fun begins again!

Hal yang persis sama, bisa juga
bekerja untuk kegagalan dan
keterpurukan Anda. Jangan hanya duduk
terdiam dan menjilati luka. Tataplah
sekelili ng Anda untuk berbagai
kesempat an dan peluang baru.

KESIMPU LAN

Jadi bagaimana, masihkah Anda mau
menggeletak terkapar di tempat becek
dan basah di bawah situ? Atau marilah
sambut tangan saya, mari bangkit
bersama menyongsong segala kesempatan
baru!<>
Ayolah, sebelum saya terlanjur
berpiki r lebih jauh untuk menyuntik
mati saja Anda.

Saya Ingin Anda Sukses,
Saya Harus Membuat Anda Sukses.

SEMAKIN BESAR PENGORBANAN – SEMAKIN

Di kisahkan ada pendeta tua, 6oth, yang
sedang tidur siang di hari senin. Dia
memang sedang mengantuk berat, karena
hari minggu kotbah maraton di 3
gereja, melelahkan. Dalam keheningan
dan kenikmatannya tidur, datang
mengetuk seorang anak kecil, 9 th,
laki-laki.'. .Tok..tok. .tok.., Pak
Pendeta, tolong-tolong. .ada yang
sakit, doakan kami..' si anak kecil,
Tomo, teriak-teriak di depan pintu
rumah pendeta yang sedang tidur. Pak
pendeta terkejut, sambil bangun, dia
bergumam:'Sia pa sih ini, mengganggu
aja..o rang lagi
tiduran..dib angunan ..' Dengan berat
hati, dia membuka pintu rumahnya,
sambil masih mengantuk:'Ada apa
nak..?' dia bertanya. 'Pak pendeta,
saya Tomo, tinggal 500 meter dari
sini, tolong..tolong. .tolonglah ada
yang sakit, doakan Pak pendeta..'
'Ini khan siang, saya sedang
istirahat, ' jawab pendeta. 'Tolonglah
Pak Pendeta, kalo tidak dia akan
meninggal..' Dengan perasaan terpaksa,
berangk atlah Pak Pendeta tadi dengan
si Tomo berjalan kaki. Setiba di rumah
si anak, Pendeta masuk, dia heran, gak
ada yang sakit.'Mana yang sakit?
Siapa?' tanya Pak Pendeta. 'Ini,Pak
Pendeta. .!'
'Hah..apa? Ini khan anjing..!' 'Tapi,
dia sakit berat Pak Pendeta.., tolong
doakan dia!' si anak terus merayu.
Sudah kepalang tanggung, Pak Pendeta
dengan rasa sangat terpaksa, dia pun
mulai mendoakan si anjing, begini
doanya:'He y, anjing, jika engkau mau
sembuh, sembuhlah, jika mau mati,
matilah.Ami n' doa pendeta singkat,
jelas, agar dia cepat selesai dan
pulang. Dia pikir, bodoh amat
mendoakan anjing! Anehnya, setelah 3
hari kemudian, si anjing mendadak
sembuh. Tomo sungguh senang sekali, ia
berniat ingin mengucapkan rasa terima
kasih kepada Pak Pendeta. Dia pun ke
rumah Pak Pendeta lagi. Sesampai di
rumah Pak Pendeta, dia pun mengetuk
rumah Pak Pendeta
lagi,'Tok ..tok. .tok..'
Rupanya Pak Pendeta sedang sakit demam
di tempat tidurnya, tergeletak tak
berdaya, lemah, dengan selimut tebal.
Dengan kepolosan si Tomo, ia
menawarkan ingin mendoakan Pak Pendeta
sebagai balas budi, pikirnya. 'Pak
Pendeta, bolehkah saya mendoakan Pak
Pendeta?' tanya si anak kepada Pak
Pendeta dengan polosnya,
lugu. 'Silahkan..' jawab Pak Pendeta.
Begini doanya:'Hey, pendeta, jika
engkau mau sembuh, sembuhlah, jika mau
mati, matilah.Amin' doa si anak persis
sama dengan contoh Pak Pendeta, doanya
singkat dan jelas. Pak Pendeta,
bengong dan malu pada dirinya sendiri.
Eh, ternyata, 3 hari kemudian, Pak
Pendeta inipun sembuh..!
Doa itupun lalu tersebar, tersohor dan
terkenal di kampung itu, menjadi: DOA
ANJING..sampa i sekarang..!

Menggapai Impian, Meraih Cita-Cita

Apa agendamu di tahun 2008 nanti?
Mengisi agenda dengan sederetan
resolus i memang sudah menjadi tradisi
yang populer begitu memasuki bulan
Januari. Kita seakan-akan ingin
membuat perubahan pada diri sendiri ke
arah yang positif. Tema keinginan yang
paling sering ditulis oleh setiap
orang adalah perbaikan pada kesehatan,
baik jasmani maupun rohani. Misalnya
bercita- cita untuk berolahraga lebih
banyak, atau bertekad untuk bersikap
baik kepada sesama. Itu tidak salah,
justru bagus sekali. Masalahnya adalah
sejauh mana kamu bisa mencapai
resolusi mu dan seberapa kuat bisa
mempertahank annya? Nah, jangan keburu
kecil dulu. Simak deh petunjuk-
petunju k afdol di bawah ini yang
dijamin bisa membuat resolusi yang
kamu ciptakan tidak mubazir begitu
saja.
< BR>1. Buat cita-cita yang bisa diraih,
dan yakini diri kalau kamu pasti bisa
meraihnya. Sering kita merasa gagal
dalam meraih keinginan atau cita-cita
yang sudah dibuat. Hal ini dikarenakan
kita sendiri yang terlalu kreatif
membuat cita-cita yang tidak realistis
dengan keadaan diri kita sendiri.
Simpan dulu saja keinginan untuk
merubah dunia. Fokus pada cita-cita
yang berefek pada diri sendiri dan
masih dalam area jangkauanmu. Misalnya
kamu bertekad untuk berolahraga lebih
banyak atau bersikap baik kepada
sesama. Setelah itu, percaya pada diri
sendiri kalau kamu bisa meraihnya.
Keyaki nan diri dan komitmen atau
keteguhan hati adalah resep
keberhasila n. Pokoknya pede aja lagi!

2. Tulis resolusimu secara lengkap dan
terperinci.Te kad yang terlalu umum
atau tidak jelas bisa buat kamu susah
untuk mencapainya. Lebih baik kamu
buat cita-cita yang spesifik,
macam "Saya akan berolahraga selama 30
menit pada setiap hari Senin, Rabu dan
Sabtu" atau "Saya akan memberikan satu
buah pujian yang tulus buat satu orang
di rumah setiap harinya." Tulis
tekadmu itu pada secarik kertas dan
letakan di suatu tempat supaya dapat
terbaca setiap waktu. Misal di cermin
kaca, jadi sambil menyisir rambut
secara tidak sengaja kamu selalu
membacanya . Dengan membacanya setiap
waktu berarti kamu akan selalu
diingati, yang ujungnya kamu akan
selalu termotivasi untuk
melaksanaka nnya setiap hari.

3. Buat jangka waktu dan biasakan
untuk selalu disiplin. Supaya bisa
mencapai ke tujuan kamu perlu membuat
pembagian waktu yang berisi langkah-
langkah yang harus dikerjakan. Pada
setiap langkahnya buat batas final
kapan harus selesai. Misal cita-citamu
tadi adalah berolahraga selama 30
menit setiap hari Senin, Rabu dan
Sabtu. Mulailah dengan 15 menit pada
minggu pertama, kemudian bertambah
menjadi 20 menit, 25 menit sampai
kemudian 30 menit pada minggu keempat.
Atau mulai dari sekali seminggu,
kemudia n dua kali hingga akhirnya bisa
tiga kali seminggu. Buat tanda pada
setiap langkah yang telah
dilaksanaka n, misal dengan mencoret
atau memberi tanda bintang sebagai
lambang keberhasilan. Sekali-kali
boleh juga memberi diri sendiri
hadiah, hitung-hitung sebagai penambah
semangat . Karena bisa saja, kamu
merasa jenuh atau bosan terus putus
tengah jalan, atau gawatnya lagi balik
ke kondisi semula. Nah, supaya nggak
mengalami hal seperti itu, kamu harus
tetap semangat dan jangan mudah
menyerah.
Sekarang mungkin kamu sudah punya
tekad yang ingin diraih di tahun 2003
ini. Jangan sia-siakan tekad tersebut.
Kalau kamu membiasakan diri untuk
selalu membuat tekad atau cita-cita
lengkap dengan langkah-langkah
n yatanya, bisa dipastikan hidup kamu
juga akan lebih terarah dan rapih,
alias tidak berantakan kemana-mana
tanpa tujuan. Kalau misalnya cita-cita
yang kamu buat dirasa terlalu berat
atau kamu punya impian yang kayaknya
susah diraih, jangan putus asa dulu.
Anggap saja impian besarmu itu adalah
kemenangan pada pertandingan final,
dimana untuk mencapainya kamu harus
melalui dulu beberapa pertandingan
sebe lumnya. Keberhasilanmu mengerjakan
langk ah demi langkah dalam proses
meraih cita-cita ibarat kemenangan
yang kamu raih pada setiap babak
pertandinga n. Satu hal yang tidak
boleh dilupakan : tetap semangat dan
jangan mudah menyerah. Kegigihan akan
selalu berbuah manis. Percaya deh!

Pelatih Terbaik Bukan Terpintar

Beberapa Tips

# TIP 1
Silahkan kutip ungkapan Pak Mario Teguh

"Orang yang mulia dan tinggi, biasanya
sudah kehilangan kemampuannya untuk
merendahkan Orang" kemudian silahkan
lanjutka n dengan jawaban usahakan
membuat transisi yang yambung dengan
permasalah annya. Hal ini hanya
menghancurk an selera membantainya saja.

Audienc e akan berfikir dua tiga kali
jika ingin merendahkan dan membantai
anda.
#Tip 2
Tipnya Pak Norman Firman.

Bawal ah hadiah-hadiah kecil untuk
khususnya mereka yang punya keinginan
"menyer ang", karena pada dasarnya
manusia pasti akan balas budi. JIka
anda
pern ah menulis buku atau membuat Audio
CD bisa anda gunakan sebagai
hadiah, sekaligus mengangkat nilai
anda dan respek sanag penanya.

#Tip 3

Tanyakan jawabannya pada penanya.
Biasanya mereka akan panjang lebar
menjelaskan . Sering kali anda akan
melihat bahwa apa yang mereka sampaikan
tidak bertentangan. Tambahkan sedikit
bila memang perlu, atau cukup
mintalah peserta lain untuk tepuk
tangan atas jawabanya, sebagai applaus

#Tips 4

Gunakan Methapore atau cerita-cerita
unt uk membangun dukungan atas jawaban
anda. Karena dengan cerita tidak akan
menyinggung atau menusuk, namun akan
membuat sang "teroris" menjadi enggan.

Misal ya hati hati menilai. Seorang
pengemudi memberi uang Rp. 100.000,-
pada sang pengemis. Seroang pendeta
berkata "Puji Tuhan, betapa mulia
hatinya", seorang Ustad berkata"
Subhanal lah, semoga Alloh membalasnya"
seda ng Ibu Subangun (tokoh gosip dan
tukang ngiri di sinetron) bilang
"Ahhh dasar sok kaya, biar dibilang
dermawan !"

Nah mereka akan mendapat insight,
untuk hati hati menilai, hati hati
berkomentar yang buruk, karena dengan
mudah akan ketahuan nilai dirinya.

#Tip s 5

Temukan motivnya. Bertanya bisa jadi
ingin tahu, ingin dapat jawaban,
ingin kelihatan tahu, ingin dipandang
berwawa san, ingin dihormati,
benar- benar ingin membantai anda...
dan banyak lagi motivnya. Temukan
motiv utamanya, mudah-mudahan anda
akan segera menemukan jawabanya.

#T ips 6

Tanyakan pertanyaan itu ke forum atau
audience. Anda akan terbantu dengan
jawaban audiense lainnya sekaligus
anda memiliki waktu yang cukup untuk
berfikir dan RELOADING ilmu ilmu yang
anda miliki. Anda bisa berputar
posisi sejenak sebagai moderator.

#T ips 7

Mintalah maaf kalau memang benar-benar
tidak tahu. Jika itu bidang yang
anda ajarkan, berjanjilah untuk
menjawab lain waktu vie email atau
telpon,
n amun bila bukan spesialisasi anda.
Cukup minta maaf karena saya tidak
tahu jawaban yang baik.

# Tips 8

Gunakan Games atau permainan. Ada
games-games dan permainan yang bisa
untuk menjawab pertanyaan, bisa
sebagai pembuktian, bisa sebagai alat
yang
lang sung menjawab dan memuaskan.

#T ips 9

Belajar, belajar, belajar. Karena
trainer selain semangat mengajarnya
harus menggebu, semangat belajarnya
juga harus jauh lebih menggebu

Tak Terkena Sindrom Liburan

Ruli paling senang kalau masuk ke
kantor lagi setelah cuti atau
libur panjang. Mengapa? Karena dia
bisa segera menyelesaikan
pek erjaannya yang tertunda. Setiap
kali menjelang libur panjang,
Ruli selalu bekerja lembur. Dia ingin
menyelesaik an pekerjaan
sebanya k mungkin, supaya kalau nanti
masuk kembali, pekerjaan yang
tertunda dan pekerjaan lain tidak
menumpuk setinggi gunung.

Sebel um Lebaran tiba, Ruli lembur tiap
hari. Dia juga selalu datang
paling pagi. Sebagai sales
administrat or, Ruli memang harus
mendata
penjualan harian dari seluruh cabang
di Indonesia, kemudian membuat
laporan penjualan harian, laporan
penjualan mingguan, laporan
masalah yang dihadapi cabang, dan
masih banyak lagi. Semua laporan
tersebut dibuat untuk manajer
penjualan dan direksi. Laporan
penjualan harian harus diserahkan tiap
sore.

Belum lagi mendata pengiriman dan
menyampaikan jadwal pengiriman
barang ke bagian gudang agar bisa
dikirim ke cabang sesuai
kebutuhan. Selain itu semua pekerjaan
adminis trasi para tenaga
penjualan juga harus dilaporkan tiap
hari, misalnya permohonan biaya
promosi, cuti, dan lain-lain.

Se mua laporan dari cabang itu akan
laporkan ke Manajer Penjualan.
Setela h mendapat persetujuan barulah
Ruli harus meneruskannya ke
bagian lain yang bersangkutan,
mis alnya bagian keuangan, bagian
sumber daya manusia, dan lain-lain.

An na, manajernya, sering memperhatikan
Rul i. Apa yang membuatnya
demiki an rajin? Dari dulu tidak pernah
ada sales administrator yang
bisa tahan bekerja lebih dari tiga
bulan. Semua tidak betah bekerja
lama karena mereka merasa pekerjaan
terlalu berat. Bahkan ada yang
keluar ketika baru bekerja seminggu.
Tapi Ruli sudah tujuh bulan
bekerja dan dia kelihatan sangat
menikmati pekerjaannya.

Bukannya tidak pernah mengeluh. Pernah
sih, misalnya:"Sebentar lagi
selesai Bu. Maaf agak lama, soalnya
pekerjaan saya banyak sekali
Bu." Tapi hanya sebatas itu. Dia tidak
pernah malas atau berkeluh
kesah.
Kemarin, belum banyak karyawan yang
masuk kerja seusai libur
Lebaran. Tapi Ruli sudah masuk
bekerja. Anna sampai heran melihat
kerajinan Ruli. Di hari pertama masuk
kerja setelah libur panjang,
biasanya belum ada orang yang langsung
aktif.
Langsung bekerja

Sebag ian masih merapi-rapikan ruangan
atau membereskan meja kerja
dan dokumen-dokumen lainnya. Tapi Ruli
lain, sesudah menyalami semua
orang sambil bermaaf-maafan, Ruli
langsung bekerja.

Anna mendekati Ruli. Dia ingin tahu
apa yang dikerjakannya. Laporan
dari cabang kan belum ada yang masuk?
Sibuk apa sih? Ternyata Ruli
sedang membuat formulir isian baru
untuk dipakai oleh seluruh cabang
dalam membuat semua laporan.

Sela ma ini memang tiap cabang membuat
laporan dengan formulir buatan
mereka sendiri, sehingga semua laporan
tidak ada yang seragam. Ada
sih beberapa formulir isian yang lama,
tapi hanya sedikit yang mau
memakainya karena proses pengisiannya
terl alu berbelit-belit
se hingga menyulitkan.

Ketika ditanya apa yang sedang
dilakukann ya, Ruli menjawab:"Saya
me mbuat formulir laporan yang lebih
mudah diisi tapi lengkap Bu.
Soalnya semua laporan tidak ada yang
seragam. Hari ini kan saya
belum banyak pekerjaan, jadi saya mau
menyelesaikan hari ini. Nanti
setelah selesai, saya tunjukkan ke Ibu
Anna, mungkin Ibu bisa
memberikan masukan. Kalau sudah saya
perbaiki, besok pagi bisa
langsung saya serahkan ke tiap divisi
lain untuk sosialisasi. Senin
bisa langsung dikirim ke semua cabang
Bu. Mulai Selasa mereka sudah
bisa menggunakannya.
< BR>"

Anna hanya bisa mengangguk-angguk.Ruli ini memang luar biasa.
Selama ini tiap orang yang pernah
menjabat jabatan Ruli tidak ada
yang berpikir untuk mencari solusi.
Mereka hanya mengeluh terus.

Yang laporan cabang sering terlambat
lah, yang laporan tidak seragam
lah, dan lain sebagainya. Karena tidak
ada solusi, maka mereka semua
tidak tahan dan akhirnya mengundurkan
diri . Aduuuuuh!

Rul i berkata lagi:"Besok kan masih
belum banyak pekerjaan Bu, besok
saya akan mencari cara agar laporan
dari cabang tidak terlambat
lagi."< BR>
"Bagaimana caranya?" tanya Anna.

"Mungki n saya kirimkan email internal
tiap siang untuk mengingatkan
mere ka, mungkin juga saya email lagi
formulir isiannya. Entahlah bu,
saya belum pasti. Tapi saya pasti akan
mencari jalan keluar terbaik.
Soalnya kalau tidak, saya juga yang
nanti ikut repot bu."

embali Anna hanya bisa mengangguk-
anggu k. Ruli benar-benar bisa
memanfaatkan waktu kerjanya. Tidak
menunggu disuruh! Kalau
menghadapi masalah tidak mengeluh,
tapi mencari solusi sendiri. Ah,
kalau saja semua anak buahnya seperti
Ruli...!< BR>
Ruli sendiri memang senang sekali
dengan pekerjaannya. Dia bisa
belajar banyak sekali dalam
pekerjaanny a. Dia bisa berkomunikasi
den gan semua kepala cabang dan kepala
divisi, bahkan dia memiliki
akses langsung ke direksi.

Dia jadi bisa menganalisa, salesman
mana yang paling berhasil, dan
yang tidak serta mengapa demikian. Dia
selalu mencoba mempelajari
segal a sesuatu dan selalu ingin
mencari solusi bagi semua
permasalaha n.

Saat semua orang masih melakukan
pemanas an untuk kembali bekerja
seusai liburan, Ruli sudah memiliki
rencana- rencana besar yang
membuatnya bersemangat dan langsung
bisa aktif kembali. Bagaimana
dengan kita? Start today! Find
solution!

"SAVE PAPER - THINK BEFORE YOU PRINT! "

Mari kita lebih peduli pada nasib Bumi
kita !
Save the Nature, Save the Earth !!!

Harta Karun untuk Semua
oleh Dewi Lestari

Hari ini kiriman buku yang saya pesan
dari Amazon.com datang. Ada satu
buku
yang langsung saya sambar dan baca
seketika. Judulnya: "Stuff - The
Secret Lives of Everyday Things". Buku
itu tipis, hanya 86 halaman,
tapi
informasi di dalamnya bercerita
tentang perjalanan ribuan mil dari mana
barang-baran g kita berasal dan ke mana
barang-baran g kita berakhir.

Dim ulai sejak SD, saat saya pertama
kali tahu bahwa plastik memakan
waktu
ratusan tahun untuk musnah, saya
sering merenung: orang gila mana yang
mencipta sesuatu yang tak musnah
ratusan tahun tapi masa penggunaannya
han ya dalam skala jam-bahkan detik?
Bungkus permen yang hanya bertahan
sepuluh detik di tangan, lalu masuk
tong sampah, ditimbun di tanah dan
baru

h ancur setelah si pemakan permen
menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa j adi nya hidup
ini tanpa plastik, tanpa cat,
tanpa
det erjen, tanpa karet, tanpa mesin,
tanpa bensin, tanpa fashion. Dan
sebagai konsumen dalam sistem
perdaganga n modern, sejak kita lahir
rantai
p engetahuan tentang awal dan akhir
dari segala sesuatu yang kita
konsumsi
telah diputus. Kita tidak tahu dan
tidak dilatih untuk mau tahu ke mana
kemasan styrofoam yang membungkus nasi
rames kita pergi, berapa banyak
pohon yang ditebang untuk koran yang
kita baca setengah jam saja, beban
polutan yang diemban baju-baju semusim
yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita
lewatkan tanpa berpikir, yang terasa
wajar-waja r saja, pernahkah kita
berhitung bahwa untuk hidup 24 jam
kita
bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini
berkali-kali lipat berat tubuh
kita
sen diri?

Untuk menyiram 200 cc air kencing,
kita memakai 3 liter air. Untuk
mencuci
secangkir kopi, kita butuh air
sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis
daging burger yang mengenyangkan perut
setengah hari dibutuhkan sekitar
2,400 liter air. Produksi satu set PC
seberat 24 kg yang parkir di atas
meja kerja kita menghasilkan 62 kg
limbah, memakai 27,594 liter air,
dan
mengo nsumsi listrik 2,300 kwh.
Bagaimana dengan chip kecil yang
bekerja
d i
dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk
memproduksi nya 4,500 kali lipat
lebih berat daripada berat chip itu
sendiri.
< BR>Mengetahui mata rantai tersembunyi ini
bisa menimbulkan berbagai
reaksi.< BR>Kita bisa frustrasi karena terjepit
dalam ketergantungan gaya hidup
yang
tak bisa dikompromi, kita bisa juga
semakin apatis karena tidak mau
pusing.
Yang jelas, sesungguhnya ini adalah
pengetahua n yang sudah saatnya
dibuka.Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar
penampang daun dan membedah jantung
katak, dapat dibuat lebih empiris
dengan mempelajari hulu dan hilir
dari
ben da-benda yang kita konsumsi,
sehingg a tanggung jawab akan alam ini
telah
diso sialisasikan sejak kecil.

Pernah kah kita merenung, saat kita
memasuki gedung FO empat lantai,
Pasar
Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu
pada hari Minggu di mana ada lautan
PKL: tidakkah semua baju dan barang-
barang itu mampu memenuhi kecukupan
pendudu k satu kota ? Tapi kenapa
barang-bar ang ini tidak ada habisnya
diproduk si? Setiap hari selalu ada
jubelan pakaian baru yang
menggelontor i
pasar. Pernahkah kita merenung, saat
kita memasuki hypermarket dan
melihat
ra tusan macam biskuit, ratusan varian
mie instan, dan ratusan merk
sabun:
ha ruskah kita memiliki pilihan
sebanyak itu?

Pernahka h kita merenung, apa yang kita
inginkan sesungguhnya jauh
melebihi
apa yang kita butuhkan?

Ata s nama kecukupan, satu manusia bisa
hidup dengan lima pasang baju
dalam
set ahun, bahkan lebih. Atas nama
fashion, jumlah itu menj adi tidak
berbatas. Atas nama kebutuhan, satu
manusia bisa hidup dengan beberapa
pilihan panganan dalam sehari. Atas
nama selera dan nafsu, seisi Bumi
tidak
aka n sanggup memenuhi keinginan satu
manusia.

Permasalahan ini memang bisa dilihat
dari berbagai kaca mata. Seorang
ekonom mungkin akan menyalahkan sistem
kapitalism e dan globalisasi.
Seor ang

sosialis akan mengatakan ini masalah
distribus i dan pemerataan. Tapi
jika
kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi
adalah kumpulan negara, negara
adalah kumpulan kelompok, dan kelompok
adalah kumpulan individu,
permasa lahan ini akan kembali ke
pangkuan kita. Dan kesadaran serta
kemauan kitalah yang pada akhirnya
akan memungkinkan sebuah perubahan
sejati.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan
keput usan harian kita menj adi
sangat menentukan. Tidak perlu
menunggu Amerika menyepakati protocol
Kyoto, tidak
perlu juga menunggu penjarah hutan
tertangkap, setiap langkah
kita-memi lih
merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-
adalah pilihan politis dan ekologis
yang menentukan masa depan seisi Bumi.

Saya belum bisa mengorbankan komputer
karena itulah instrumen saya
bekerja,
tapi saya bisa lebih awas dengan jam
penggunaan dan mematikannya jika
tidak
per lu. Saya belum bisa mengorbankan
kebu tuhan akan informasi, tapi saya
bisa memilih membaca berita lewat
internet atau membaca koran di tempat
publik ketimbang berlangganan
lang sung. Bagaimana dengan fashion?
Di dunia citra ini, dengan profesi
yang mengharuskan banyak tampil di
muka
publik , saya pun belum bisa
mengorbankan keperluan fashion (baca:
membeli
busana lebih sering dari yang
dibutuhkan), tapi saya bisa membuat
komitmen< BR>dengan lemari pakaian, yakni baju yang
saya miliki tidak boleh melebihi
kapasita s lemari saya. Jika lebih,
maka harus ada yang keluar. Dan
setiap
beb erapa bulan saya dihadapkan pada
kenyataan bahwa ada baju yang tidak
saya pakai setahun lebih atau baju
yang cuma sekali dipakai dan tak
pernah
lag i. Bukan cuma baju, ada juga buku,
pernik rumah, alat dapur, bahkan
sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.

Alh asil, dalam rumah saya ada semacam
peti-peti 'harta karun', yang
berisikan barang-barang yang harus
keluar dari peredaran, karena jika
dipertahanka n hanya menj adi kelebihan
tanpa lagi unsur manfaat. Harta
karun ini lantas harus dic arik an
lagi outlet untuk penyaluran.

P ada waktu perayaan 17 Agustus, di
kompleks saya diselenggarakan
b azaar.
Para warga menyewa stand untuk
berjualan. Saya ikut berpartisipasi,
d an
sayalah satu-satunya penjual barang
bekas di antara penjual barang-baru
baru. Karena bukan demi cari untung,
barang-ba rang itu saya lepas
dengan
h arga sangat murah. Yang membeli bukan
cuma warga kompleks, tapi juga
dari
kamp ung sekitar. Hari pertama, saya
sudah kehabisan dagangan. Terpaksa
saya
mengontak saudara-saudara saya yang
barangkali juga punya barang bekas
untuk disalurkan. Sama dengan saya,
mereka pun punya timbunan harta
karun
ya ng entah harus diapakan. Stand saya
menj adi salah satu stand paling
laris selama bazaar berlangsung. Dan
kakak saya terkaget-kaget dengan
penghasila n
yang ia dapat dari tumpukan barang
yang sudah dianggap sampah.

Berju alan di bazaar tentu bukan satu-
satunya jalan, ada aneka cara
kreatif
l ain untuk memanfaatkan harta karun
kita, termasuk juga disumbangkan ..
Namun yang lebih sukar adalah memulai
membuat komitmen-komitmen
pembatasan
diri. Berkomitmen dengan rak buku,
dengan lemari pakaian, dengan rak
kamar
mand i, dengan laci dapur, dan pada
intinya... dengan diri sendiri.
Siapkah< BR>kita menentukan batasan dan berjalan
dalam koridor itu?

Dan, yang lebih susah lagi, adalah
pengenda lia n diri dari awal bersua
aneka pilihan yang membombardir kita
setiap hari, lalu sadar dan mawas
akan
ran tai sebab-akibat yang menyertai
pilihan kita. Membuka diri untuk
info
dan pengetahuan ekologi adalah salah
satu cara pembekalan yang baik.
Walaupun sekilas tampak merepotkan dan
bikin frustrasi, tapi kantong
kresek
yang kita buang t adi pagi tidak akan
hilang oleh sihir, dan hamburger
yang
kita makan tidak dipetik dari pohon.
Rantai yang menyertai
barang- barang
itu tidak akan hilang hanya karena
kita menolak tahu.

Banyak orang yang berkomentar pada
saya, " Aduh , Wi . Kamu bikin hidup
tambah susah saja." Dan mereka benar.
Hidup ini tak mudah. Untuk itu
kita justru
harus belajar menghargai setiap
jengkalnya . Memilih hidup yang lebih
sederhana, hidup dengan tempo yang
lebih pelan, hidup dengan pengasahan
kesada ran, tak hanya membantu kita
lebih eling dan terkendali, tapi
juga
memb antu Bumi ini dan jutaan manusia
yang dij adi kan alas kaki oleh
industri demi pemenuhan nafsu konsumsi
kita sendiri.

Ling karan setan? Ya. Tapi tidak
berarti kita tak sanggup berubah.

Sela ma ini kita adalah pembeli yang
berlari. Dalam kecepatan tinggi
kita
be rtransaksi, sabet sana sabet sini,
tanpa tahu lagi apa yang
sesungguhny kita cari.
berhentilah sejenak. marilah kita
berjalan

"SAVE PAPER - THINK BEFORE YOU PRINT! "

Mari kita lebih peduli pada nasib Bumi
kita !
Save the Nature, Save the Earth !!!

Harta Karun untuk Semua
oleh Dewi Lestari

Hari ini kiriman buku yang saya pesan
dari Amazon.com datang. Ada satu
buku
yang langsung saya sambar dan baca
seketika. Judulnya: "Stuff - The
Secret Lives of Everyday Things". Buku
itu tipis, hanya 86 halaman,
tapi
informasi di dalamnya bercerita
tentang perjalanan ribuan mil dari mana
barang-baran g kita berasal dan ke mana
barang-baran g kita berakhir.

Dim ulai sejak SD, saat saya pertama
kali tahu bahwa plastik memakan
waktu
ratusan tahun untuk musnah, saya
sering merenung: orang gila mana yang
mencipta sesuatu yang tak musnah
ratusan tahun tapi masa penggunaannya
han ya dalam skala jam-bahkan detik?
Bungkus permen yang hanya bertahan
sepuluh detik di tangan, lalu masuk
tong sampah, ditimbun di tanah dan
baru

h ancur setelah si pemakan permen
menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa j adi nya hidup
ini tanpa plastik, tanpa cat,
tanpa
det erjen, tanpa karet, tanpa mesin,
tanpa bensin, tanpa fashion. Dan
sebagai konsumen dalam sistem
perdaganga n modern, sejak kita lahir
rantai
p engetahuan tentang awal dan akhir
dari segala sesuatu yang kita
konsumsi
telah diputus. Kita tidak tahu dan
tidak dilatih untuk mau tahu ke mana
kemasan styrofoam yang membungkus nasi
rames kita pergi, berapa banyak
pohon yang ditebang untuk koran yang
kita baca setengah jam saja, beban
polutan yang diemban baju-baju semusim
yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita
lewatkan tanpa berpikir, yang terasa
wajar-waja r saja, pernahkah kita
berhitung bahwa untuk hidup 24 jam
kita
bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini
berkali-kali lipat berat tubuh
kita
sen diri?

Untuk menyiram 200 cc air kencing,
kita memakai 3 liter air. Untuk
mencuci
secangkir kopi, kita butuh air
sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis
daging burger yang mengenyangkan perut
setengah hari dibutuhkan sekitar
2,400 liter air. Produksi satu set PC
seberat 24 kg yang parkir di atas
meja kerja kita menghasilkan 62 kg
limbah, memakai 27,594 liter air,
dan
mengo nsumsi listrik 2,300 kwh.
Bagaimana dengan chip kecil yang
bekerja
d i
dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk
memproduksi nya 4,500 kali lipat
lebih berat daripada berat chip itu
sendiri.
< BR>Mengetahui mata rantai tersembunyi ini
bisa menimbulkan berbagai
reaksi.< BR>Kita bisa frustrasi karena terjepit
dalam ketergantungan gaya hidup
yang
tak bisa dikompromi, kita bisa juga
semakin apatis karena tidak mau
pusing.
Yang jelas, sesungguhnya ini adalah
pengetahua n yang sudah saatnya
dibuka.Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar
penampang daun dan membedah jantung
katak, dapat dibuat lebih empiris
dengan mempelajari hulu dan hilir
dari
ben da-benda yang kita konsumsi,
sehingg a tanggung jawab akan alam ini
telah
diso sialisasikan sejak kecil.

Pernah kah kita merenung, saat kita
memasuki gedung FO empat lantai,
Pasar
Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu
pada hari Minggu di mana ada lautan
PKL: tidakkah semua baju dan barang-
barang itu mampu memenuhi kecukupan
pendudu k satu kota ? Tapi kenapa
barang-bar ang ini tidak ada habisnya
diproduk si? Setiap hari selalu ada
jubelan pakaian baru yang
menggelontor i
pasar. Pernahkah kita merenung, saat
kita memasuki hypermarket dan
melihat
ra tusan macam biskuit, ratusan varian
mie instan, dan ratusan merk
sabun:
ha ruskah kita memiliki pilihan
sebanyak itu?

Pernahka h kita merenung, apa yang kita
inginkan sesungguhnya jauh
melebihi
apa yang kita butuhkan?

Ata s nama kecukupan, satu manusia bisa
hidup dengan lima pasang baju
dalam
set ahun, bahkan lebih. Atas nama
fashion, jumlah itu menj adi tidak
berbatas. Atas nama kebutuhan, satu
manusia bisa hidup dengan beberapa
pilihan panganan dalam sehari. Atas
nama selera dan nafsu, seisi Bumi
tidak
aka n sanggup memenuhi keinginan satu
manusia.

Permasalahan ini memang bisa dilihat
dari berbagai kaca mata. Seorang
ekonom mungkin akan menyalahkan sistem
kapitalism e dan globalisasi.
Seor ang

sosialis akan mengatakan ini masalah
distribus i dan pemerataan. Tapi
jika
kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi
adalah kumpulan negara, negara
adalah kumpulan kelompok, dan kelompok
adalah kumpulan individu,
permasa lahan ini akan kembali ke
pangkuan kita. Dan kesadaran serta
kemauan kitalah yang pada akhirnya
akan memungkinkan sebuah perubahan
sejati.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan
keput usan harian kita menj adi
sangat menentukan. Tidak perlu
menunggu Amerika menyepakati protocol
Kyoto, tidak
perlu juga menunggu penjarah hutan
tertangkap, setiap langkah
kita-memi lih
merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-
adalah pilihan politis dan ekologis
yang menentukan masa depan seisi Bumi.

Saya belum bisa mengorbankan komputer
karena itulah instrumen saya
bekerja,
tapi saya bisa lebih awas dengan jam
penggunaan dan mematikannya jika
tidak
per lu. Saya belum bisa mengorbankan
kebu tuhan akan informasi, tapi saya
bisa memilih membaca berita lewat
internet atau membaca koran di tempat
publik ketimbang berlangganan
lang sung. Bagaimana dengan fashion?
Di dunia citra ini, dengan profesi
yang mengharuskan banyak tampil di
muka
publik , saya pun belum bisa
mengorbankan keperluan fashion (baca:
membeli
busana lebih sering dari yang
dibutuhkan), tapi saya bisa membuat
komitmen< BR>dengan lemari pakaian, yakni baju yang
saya miliki tidak boleh melebihi
kapasita s lemari saya. Jika lebih,
maka harus ada yang keluar. Dan
setiap
beb erapa bulan saya dihadapkan pada
kenyataan bahwa ada baju yang tidak
saya pakai setahun lebih atau baju
yang cuma sekali dipakai dan tak
pernah
lag i. Bukan cuma baju, ada juga buku,
pernik rumah, alat dapur, bahkan
sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.

Alh asil, dalam rumah saya ada semacam
peti-peti 'harta karun', yang
berisikan barang-barang yang harus
keluar dari peredaran, karena jika
dipertahanka n hanya menj adi kelebihan
tanpa lagi unsur manfaat. Harta
karun ini lantas harus dic arik an
lagi outlet untuk penyaluran.

P ada waktu perayaan 17 Agustus, di
kompleks saya diselenggarakan
b azaar.
Para warga menyewa stand untuk
berjualan. Saya ikut berpartisipasi,
d an
sayalah satu-satunya penjual barang
bekas di antara penjual barang-baru
baru. Karena bukan demi cari untung,
barang-ba rang itu saya lepas
dengan
h arga sangat murah. Yang membeli bukan
cuma warga kompleks, tapi juga
dari
kamp ung sekitar. Hari pertama, saya
sudah kehabisan dagangan. Terpaksa
saya
mengontak saudara-saudara saya yang
barangkali juga punya barang bekas
untuk disalurkan. Sama dengan saya,
mereka pun punya timbunan harta
karun
ya ng entah harus diapakan. Stand saya
menj adi salah satu stand paling
laris selama bazaar berlangsung. Dan
kakak saya terkaget-kaget dengan
penghasila n
yang ia dapat dari tumpukan barang
yang sudah dianggap sampah.

Berju alan di bazaar tentu bukan satu-
satunya jalan, ada aneka cara
kreatif
l ain untuk memanfaatkan harta karun
kita, termasuk juga disumbangkan ..
Namun yang lebih sukar adalah memulai
membuat komitmen-komitmen
pembatasan
diri. Berkomitmen dengan rak buku,
dengan lemari pakaian, dengan rak
kamar
mand i, dengan laci dapur, dan pada
intinya... dengan diri sendiri.
Siapkah< BR>kita menentukan batasan dan berjalan
dalam koridor itu?

Dan, yang lebih susah lagi, adalah
pengenda lia n diri dari awal bersua
aneka pilihan yang membombardir kita
setiap hari, lalu sadar dan mawas
akan
ran tai sebab-akibat yang menyertai
pilihan kita. Membuka diri untuk
info
dan pengetahuan ekologi adalah salah
satu cara pembekalan yang baik.
Walaupun sekilas tampak merepotkan dan
bikin frustrasi, tapi kantong
kresek
yang kita buang t adi pagi tidak akan
hilang oleh sihir, dan hamburger
yang
kita makan tidak dipetik dari pohon.
Rantai yang menyertai
barang- barang
itu tidak akan hilang hanya karena
kita menolak tahu.

Banyak orang yang berkomentar pada
saya, " Aduh , Wi . Kamu bikin hidup
tambah susah saja." Dan mereka benar.
Hidup ini tak mudah. Untuk itu
kita justru
harus belajar menghargai setiap
jengkalnya . Memilih hidup yang lebih
sederhana, hidup dengan tempo yang
lebih pelan, hidup dengan pengasahan
kesada ran, tak hanya membantu kita
lebih eling dan terkendali, tapi
juga
memb antu Bumi ini dan jutaan manusia
yang dij adi kan alas kaki oleh
industri demi pemenuhan nafsu konsumsi
kita sendiri.

Ling karan setan? Ya. Tapi tidak
berarti kita tak sanggup berubah.

Sela ma ini kita adalah pembeli yang
berlari. Dalam kecepatan tinggi
kita
be rtransaksi, sabet sana sabet sini,
tanpa tahu lagi apa yang
sesungguhny kita cari.
berhentilah sejenak. marilah kita
berjalan

GOD is real

Analogi yang sederhana tapi
Mengagumkan!

Seorang konsumen datang ke tempat
tukang
cukur untuk memotong rambut dan
merapikan brewoknya.
Si tukang cukur mulai memotong rambut
konsumenny a dan mulailah terlibat
pembicar aan yang mulai menghangat.

M ereka membicarakan banyak hal dan
berbagai variasi topik pembicaraan, dan
sesaat topik pembicaraan beralih
tentangTu han.

Si tukang cukur bilang,"Saya tidak
percaya Tuhan itu ada".
"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal
si konsumen.

"Be gini, coba Anda perhatikan di depan
sana, di jalanan... untuk menyadari
bahwa Tuhan itu tidak ada.
Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,
Adakah yang sakit??,
Adakah anak terlantar??
Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit
ataupun kesusahan.
Saya tidak dapat membayangkan Tuhan
Yang
Mah a Penyayang akan membiarkan ini
semua
terj adi."

Si konsumen diam untuk berpikir
sejenak,
tapi tidak merespon karena dia tidak
ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan
pek erjaannya dan si konsumen pergi
meninggalka n tempat si tukang cukur.